BUMI DAN SEJARAHNYA

BUMI SEBAGAI ANGGOTA TATA SURYA

Umumnya bangsa Yunani dan orang‑orang abad pertengahan dulu berpegang pada teori Geosentris, yaitu teori yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta berada dalam keadaan diam dan planet‑planet lain bergerak mengitarinya. Teori ini bertahan cukup lama (sampai Abad 14). Baru pada tahun 1540‑an, seorang Astronom Polandia bernama Nicolaus Copernicus menyatakan teori Heliosentris, yaitu teori yang menganggap Matahari sebagai pusat dan planet‑planet termasuk Bumi sebagai anggotanya bergerak mengitari Matahari.

Selain oleh planet‑planet, benda‑benda antarplanet seperti komet, asteroid, dan meteoroid juga bergerak mengitari Matahari. Sistem dengan Matahari sebagai pusat yang dikitari oleh planet‑planet dan benda­-benda antar planet, komet, asteroid, dan meteoroid dinamakan Tata Surya.

 PENGELOMPOKAN PLANET

Sampai saat ini telah ditemukan sembilan planet. Urutan kesembilan planet tersebut mulai dari yang terdekat Matahari :

  1. Merkurius
  2. Venus
  3. Bumi
  4. Mars
  5. Jupiter
  6. Saturnus
  7. Uranus
  8. Neptunus
  9. Pluto.

Matahari bersinar karena sumber cahaya yang ada dalam matahari itu sendiri. Karena matahari tergolong bintang. Planet‑planet tidak memiliki sumber cahaya sendiri. Planet‑planet, bersinar karena planet‑planet memantulkan cahaya Matahari yang diterimanya.

Planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang ­(tanpa menggunakan teleskop). Karena itu, kelima planet ini telah dipelajari oleh para astrologis selama ribuan tahun. Ketiga planet lainnya ditemukan setelah penemuan teleskop. Uranus ditemukan oleh Herschel pada malam hari, tanggal 13 Maret 1781. Neptunus ditemukan berdasarkan perhitungan John Couch Adams dan Le Verrier dan dilihat pertama kali di langit pada tanggal 23 September 1846 oleh Johann G. Galle (1812‑1910), Asisten Kepala Observatorium Berlin. Pluto ditemukan berdasarkan perhitungan ahli matematik, Percival Lowell, dan dilihat pertama kali di langit oleh Clyde W. Tombaugh pada tanggal 13 Maret 1930. Percival Lowell dan Clyde W. Tombaugh bekerja pada Observatorium Lowell, Arizona, Amerika Serikat. Sekarang para Astronom sedang berusaha mencari planet kesepuluh.

Ada tiga cara pengelompokan planet‑planet. Pertama, planet‑planet dikelompokkan dengan bumi sebagai pembatas, yaitu: Planet Inferior dan Planet Superior. Planet inferior adalah planet-­planet yang orbitnya terletak di dalam orbit bumi mengitari matahari. Yang termasuk planet inferior hanya dua planet: Merkurius dan Venus. Planet superior adalah planet‑planet yang orbitnya terletak di luar orbit bumi mengitari matahari. Yang termasuk planet superior adalah Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto.

Kedua, planet‑planet dikelompokkan dengan lintasan Asteroid sebagai pembatas, yaitu: planet dalam (Inner Planets) dan planet luar (Outer Planets). Planet Dalam adalah planet‑planet yang orbitnya di sebelah dalam lintasan asteroid. Yang termasuk planet dalam adalah: Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Planet Luar adalah planet‑planet yang orbitnya di sebelah luar lintasan asteroid. Yang termasuk  planet luar  adalah: Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto.

Ketiga, planet‑planet dikelompokkan berdasarkan ukuran dan komposisi bahan penyusunnya, yaitu: Planet Terrestrial dan Planet Jovian. Planet terrestrial adalah planet‑planet yang ukuran dan komposisi penyusunnya (batuan) mirip dengan Bumi. Yang termasuk planet terrestrial adalah Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Planet Jovian atau Planet Raksasa adalah planet-planet yang ukurannya besar dan komposisi penyusunnya mirip Yupiter, yaitu terdiri dari sebagian besar es dan gas hidrogen. Yang termasuk Planet Jovian adalah Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Pluto tidak mirip dengan Bumi atau Jupiter dan banyak astronom telah mengusulkan agar Pluto dikelompokkan sebagai sebuah asteroid (planet kecil).

STRUKTUR DAN KOMPOSISI BUMI

Dari data seismik pada bawah permukaan, para ahli geologi mendapatkan data bahwa struktur bumi dapat dibagi menjadi tiga bagian yang utama, yaitu Kerak (Crust), Selubung (Mantle) dan Inti (Core). Bersamaan dengan bukti geofisika data ini juga memberikan suatu bukti fisik mengenai bahan penyusun dari tiga bagian utama tersebut.

 1

 

STRUKTUR BUMI

  1. Kerak (Crust)

Kerak bumi memiliki kisaran ketebalan antara 4-70 km, dan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kerak benua dan kerak samudera. Berdasarkan Teori Tektonik Lempeng bahwa lempeng samudera dan lempeng benua tersebut bergerak satu

2

3

sama lain akibat arus konveksi magma didalam mantel bumi. Akibat pergerakan lempeng-lempeng tersebut, maka terjadi interaksi antar lempeng. Batas pertemuan antar lempeng (Plate Boundaries) dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Batas Konvergen (Batas lempeng yang saling mendekat)

Batas Konvergen dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Zona Subduksi (Subduction Zone), yaitu batas pertemuan lempeng dimana terjadi interaksi antara lempeng benua dengan lempeng samudera. Pada batas pertemuan lempeng ini, lempeng samudera menujam kebawah lempeng benua. Hal ini disebabkan karena berat jenis lempeng benua lebih kecil daripada lempeng samudera. Contoh Bukit Barisan (Sumatera).

4

  1. Collision, yaitu batas lempeng samudera dengan lempeng samudera dan lempeng benua dengan lempeng benua. Contoh Pegunungan Himalaya.

5

  1. Batas Divergen (Batas lempeng yang saling menjauh)

Batas divergen disebut juga zona pemekaran (Spreading Zone). Contohnya adalah pematang tengah samudera (Mid Oceanic Ridge).

11

  1. Sesar Transform

Adalah pertemuan batas lempeng yang saling berpapasan.

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa kerak dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Kerak Benua (SiAl), terdiri dari batuan yang ringan yang mengandung banyak silika (SiO2), dan terdiri dari batuan kristalin dengan unsur-unsur utama Si dan Al. Kerak benua disebut juga lapisan granitis karena batuan yang membentuk kerak tersebut susunan utamanya terdiri dari batuan granit walaupun tidak seluruhnya.
  2. Kerak Samudera (SiMa), terdiri dari batuan yang sangat padat, berwarna gelap dan tersusun dari unsur Si dan Mg. Kerak samudera dapat disebut juga lapisan basaltis karena batuan penyusunnya terutama basalt.
    • Alas Kerak ditandai dengan Mohorovicic Discontinuity, lapisan tebal yang membentang sampai ke bagian yang cair di dalam bumi. Lapisan ini berada pada kedalaman ± 13 km pada kerak samudera, di kerak benua berada pada kedalaman 35 km, sedangkan pada busur vulkanik berada pada kedalaman 60 km. Lapisan ini memisahkan keheterogenan kerak dari pengaruh mantle yang homogen.

22

  1. Selubung Bumi (Mantle)

Lapisan yang dicirikan dengan meningkatnya kecepatan pada gelombang-gelombang panas ini disebut selubung. Tebal selubung ini mencapai ± 2900 km dihitung dari dasar kerak bumi. Selubung bumi diperkirakan memiliki banyak mineral dan feromagnesa, bahan yang dikandung mineral ini lebih padat dibandingkan dengan kerak. Memiliki komposisi dari oksida besi padat, Mg dan SiO2, dan cenderung memiliki komposisi yang relatif sama. Mantle terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :

  • Mantle atas, bersifat plastis atau semiplastis dengan kedalaman ± 400 km.
  • Mantle bawah, memiliki kedalaman ± 1000-2900 km dengan komposisi oksida besi padat Mg dan SiO2.

1

  1. Inti Bumi (Core)

Inti bumi merupakan lapisan paling dalam bumi dengan memiliki kedalaman ± 2900-6371 km. Inti bumi dapat dibagi menjadi menjadi 2 bagian, yaitu :

  • Inti luar, memiliki kedalaman ± 2900-5100 km tersusun oleh komposisi sedikit silika, belerang dan O2 (cair).3
  • Inti dalam, memiliki kedalaman ± 5100-6371 km, berkomposisi besi padat(Fe), dan nikel(Ni) padat.6

Peranan Ilmu Geologi dan Perkembangannya

Ilmu geologi seperti juga ilmu biologi, meteorologi dan astronomi merupakan bagian dari pengetahuan alam yang mempelajari benda-benda yang terdapat di alam raya. Satu-satunya jalan untuk mengetahui benda-benda tersebut melalui bantuan panca indera. Masalahnya adalah apakah sebenarnya benda itu, apakah akan sama dengan apa yang kita lihat atau apakah ia berbeda dengan yang kita lihat. Perbedaan tersebut memunculkan pengetahuan mengenai filsafat. Filsafat dan pengetahuan alam mulai berkembang, pada waktu manusia itu memisahkan diri dari nenek moyangnya, mencari jati diri mengenai sang pencipta alam ini. Yang sangat penting dari sifat keingintahuan setiap rohani manusia darimana lambat laun ilmu tersebut berkembang, dari sifat ingin tahu praktis sampai yang kompleks seperti sekarang. Contohnya peristiwa gempabumi, sering dikaitkan dengan kepercayaan dan tahayul.  Misalnya nenek moyang dari kaum Ugandi di Afrika percaya bahwa bumi terletak di sebuah gunung batu di danau Viktoria. Gempabumi terjadi karena Muasasa, Dewa yang mendiami danau itu karena sering berjalan-jalan mengelilingi danau tadi.

Kini kita mengetahui bahwa gempabumi itu adalah sebuah gejala geologi yang terjadi karena pelepasan tenaga-tenaga yang terkumpul didalam bumi. Sekarang manusia tidak lagi menerangkan sesuatu kejadian dengan pertolongan kepercayaan atau hipotesis yang samar-samar. Akan tetapi pengetahuan itu mempunyai satu tujuan, yaitu mencari suatu teori yang dapat menerangkan jalannya proses alam. Pengetahuan lama mempunyai tugas utama untuk menggambarkan atau melukiskan sesuatu secara deskriptif berlainan dengan pengetahuan normatif yang berhubungan dengan etika dan moral sosial.  Dengan begitu kita dapat menyimpulkan suatu peristiwa dengan data-data yang ada secara ilmiah dan benar tidaknya kita uji kembali melalui percobaan-percobaan serta eksperimen di laboratorium.

Geologi juga merupakan pengetahuan sejarah. Marilah kita mengikuti dahulu cara kerja seorang arkeologi atau ahli purbakala sebelum melihat dari dekat pekerjaan seorang geologi. Arkeolog mencoba merekonstruksi kejadian-kejadian yang telah terjadi beribu-ribu tahun yang lalu dengan pertolongan dokumen-dokumen serta peninggalan nenek moyang. Material-material serta bahan-bahan galian disusunnya, patung, barang logam ditempatkan dalam satu urutan kronologis tertentu baik yang terbengkalai di permukaan tanah maupun benda-benda tersebut harus digali guna mendapatkannya. Bila lebih dalam lagi ia menggali, seiring bahan galian ini disertai pula sisa binatang yang sudah punah dan mencapai batuan dasar.  Disinilah  berakhirnya penyelidikan arkeolog karena tidak ada lagi peninggalan nenek moyangnya yang dapat ditemukannya, oleh sebab dalam zaman-zaman yang lebih tua dari ini belum muncul dibumi. Pekerjaan arkeolog ini diteruskan oleh ahli Geologi dengan menyelidiki lapisan-lapisan bumi yang lebih dalam lagi yang dibentuk berpuluh bahkan beratus juta tahun yang silam.

Teori Malapetaka Versus Konsep Uniformitarisma

Perubahan sedikit demi sedikit yang kini sedang berlangsung sangat lambatnya, oleh ahli Geologi dahulu tidak pernah dihubungkan ataupun dipersamakan dengan proses-proses geologi dahulu terkenal dengan Teori Malapetaka yang mencoba menerangkan gejala-gejala geologi itu dengan perubahan yang revolusioner melawan Teori Uniformitarisma yang menerangkan bahwa proses-proses alam terjadi secara sistematis (relatif perlahan-lahan) dan berkesinambungan.

Teori Malapetaka (Catastrophism)

Teori ini dicetuskan oleh Cuvier, seorang berkebangsaan Perancis pada tahun 1830. Ia berpendapat bahwa flora dan fauna dari tiap zaman itu berjalan tidak berubah, dan sewaktu terjadinya revolusi maka hewan-hewan ini musnah. Sesudah malapetaka tadi muncul hewan dan tumbuhan baru sehingga teori ini lebih umum disebut teori malapetaka.

Teori Uniformitarisma

Teori ini dicetuskan oleh James Hutton, teori ini berbunyi “The Present is The Key to The Past”, yang berarti kejadian sekarang adalah cerminan atau hasil dari kejadian pada zaman dahulu, sehingga segala kejadian alam yang sekarang terjadi dengan mekanisme yang lambat dan proses yang berkesinambungan seragam dengan proses-proses yang kini sedang berlangsung.  Hal ini menjelaskan bahwa rangkaian pegunungan-pegunugan besar, lembah serta tebing curam tidak terjadi oleh suatu malapetaka yang tiba-tiba, akan tetapi oleh proses alam yang berjalan dengan sangat lambat.

Yang dapat disimpulkan dari teori ini adalah :

  • Proses-proses yang terjadi di alam berlangsung secara berkesinambungan.
  • Proses-proses alam yang terjadi sekarang merefleksikan  proses yang terjadi pada masa lampau dengan intensitas yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: